Pemilu Legislatif 9 April lalu berhasil menempatkan tiga orang Srikandi ditubuh DPRD Bengkayang dari 30 anggota DPRD secara keseluruhan. Artinya hanya sekitar 10 persen saja keterwakilan perempuan dilegislatif Bengkayang.
Ketiga Srikandi tersebut berasal dari tiga partai berbeda, yakni Partai Golkar, yang dimiliki Ir. Elisabet P. Boli, M.Kes. Dari Partai PDI Perjuangan, Antonia Rita serta Sarina dari partai Demokrasi Pembaruan (PDP). Walaupun berada dalam perahu yang berbeda, namun ketiganya berada dalam satu Daerah Pemilihan (Dapil), yaitu Dapil I (satu) yang terdiri dari Kecamatan Bengkayang, Teriak, Sungai Betung, Samalantan, Monterado dan Lembah Bawang. Dari Tiga Srikandi tersebut, satu diantaranya merupakan wajah lama, yaitu Sarina (PDP), sedangkan dua orang lainnya adalah wajah baru. Tetapi dalam hal perolehan suara, Antonia Rita mengungguli Sarina dan Elisabet P. Boli. Hasil akhir yang ditetapkan KPU Bengkayang beberapa waktu lalu menyebutkan Antonia Rita memperoleh 1171 suara sah. Sarina 996 suara dan Elisabet 914 suara. Dapil I sendiri secara keseluruhan suara sah berjumlah 44604 suara dari 102.588 suara sah di tiga Dapil kabupaten Bengkayang.
Monday, September 14, 2009
DPRD Bengkayang Dihuni Tiga “Srikandi”
Diposting oleh Krisantus di 5:55 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Monday, August 3, 2009
Wakil Bupati Bengkayang Buka Even Olahraga di Samalantan.
Wakil Bupati Bengkayang Buka Even Olahraga di Samalantan.
Memperingati HUT RI ke-64, pemerintah kecamatan Samalantan menggelar berbagai even olahraga hingga permainan rakyat. Kegiatan yang dimulai pada 1 Agustus dan direncanakan berakhir pada 17 Agustus mendatang tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot.
Pada acara pembukaan, Sabtu (1/8) kemarin, Wakil Bupati didampingi Camat Samalantan, Ketua Panitia, Konsultan Manajemen PNPM Kabupaten, Ketua Panitia serta beberapa Kepala Desa.
Dalam sambutannya, Gidot mengajak para kontingen serta masyarakat secara keseluruhan dapat menjadikan momen peringatan HUT Proklamasi tahun ini sebagai wahana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu juga, peringatan hari kemerdekaan kali ini hendaknya bisa menumbuhkan semangat bekerja keras guna mengisi pembangunan.
“Mari kita ciptakan semangat tersebut dalam diri kita,” imbaunya.
Usai memberikan kata sambutannya, Wakil Bupati kemudian menyaksikan pertandingan perdana yakni sepakbola putri antara tim Pabane melawan tim SMAN 1 Samalantan.
Berdasarkan laporan Ketua Panitia, Utin Zohar, adapun kegiatan olahraga yang diselenggarakan diantaranya seperti Sepakbola, Bola Voli, Bulu Tangkis, Panjat Pinang, Tarik Tambang dan permainan rakyat yaitu lomba kupas kelapa.
“Even tersebut diikuti semua kontingen dari tujuh desa yang berada dikecamatan Samalantan,” terang Utin.
Tujuh desa yang dimaksud antara lain, Samalantan, Tumiang, Babane, Marunsu, Pasti Jaya, Sabou, Bukit Serayan. (tni)
Dari komentar yang diucapnya, Utin mengaku bangga karena kegiatan yang digelar langsung dibuka oleh salah satu pejabat penting didaerah ini. Menurut kacamatanya, Utin menyebutkan kehadiran tersebut merupakan tanda bahwa telah terciptanya sebuah hubungan yang baik antara pemerintah dengan masyarakat.
Memanfaatkan kesempatan itu juga, Utin tidak lupa menyampaikan terimakasihnya atas kerjasama yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui program P2DTK urusan kepemudaan dan olahraga. Bantuan dana yang berasal dari program tersebut merupakan salah satu pendukung lancarnya kegiatan itu.
“Untuk bidang kepemudaan dan olahraga, Bantuan Langsung Mandiri (BLM) mendapat porsi 5 % dari BLM kecamatan. BLM kecamatan Samalantan sendiri sebesar Rp.500 juta,” sebut Konsultan Manajemen PNPM-P2DTK Bengkayang, LM.Jufri.
Berarti dana yang dikhususkan untuk bidang ini yakni sebesar Rp.25 juta. Dijelaskannya lagi, digunakannya dana untuk kegiatan tersebut berdasarkan usulan yang disampaikan masyarakat tentang penggunaannya.
Diposting oleh Krisantus di 4:23 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Wednesday, June 10, 2009
Pemberian Beasiswa, Pemda Perlu Adil
Krisantus
Borneo Tribune, Bengkayang
Upaya Pemda Bengkayang (instansi terkait) dalam memberikan bantuan beasiswa bagi duta daerahnya yang sedang menuntut ilmu patut dibanggakan. Hanya saja hal itu perlu diberikan secara adil. Demikian kata mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi (IA), Fisip Untan asal Bengkayang, Subarjo baru-baru ini.
Menurutnya,
khusus pemberian beasiswa bagi mahasiswa (bukan ikatan dinas) yang menjalani pendidikannya di perguruan tinggi yang tersebar di Pontianak, belum menyentuh mereka yang mengambil jurusan non-eksak, seperti Fisip, Hukum maupun Ekonomi.
“Padahal dalam mendukung proses pembangunan, khususnya di Bengkayang tidak hanya oleh mereka yang ahli dibidang eksak, melainkan juga dari orang-orang yang ahli dibidang lain,” tukasnya dengan nada menyakinkan.
Secara lugas mahasiswa semester tujuh mengungkapkan ketidakadilan ini seolah-olah memberikan kesan penganaktirian bagi mereka yang menuntut ilmu diluar eksak. Oleh karena itu, agar terjadi keseimbangan dalam menelurkan sumber daya manusia Bengkayang yang berkualitas, Ia mengharapkan pihak Pemda harus jeli dan adil dalam memberikan bantuan.
“Jeli maksudnya pemberia bantuan harus sesuai dengan persyaratan dimana seseorang (mahasiswa) berhak mendapatkannya. Sedangkan adil, artinya tidak hanya diberikan pada disiplin ilmu tertentu,” jelasnya.
Berdasarkan data yang diberikan mantan ketua Ikatan Mahasiswa Kabupaten Bengkayang (IMKB) Periode 2006-2007, Wardi, S.Si saat dihubungi, menyebutkan setakat ini yang diketahuinya, mahasiswa diberbagai perguruan tinggi di Pontianak yang mendapat bantuan pemda (beasiswa) baru sebatas mahasiswa Untan pada fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan FKIP. Sementara diketahuinya selama menjadi ketua IMKB, mahasiswa non-eksak seperti disebutkan Subarjo tadi, belum ada.
Dijelaskannya, pemberian beasiswa dari Pemda ini merupakan agenda kerja yang diprogramkan ketika dirinya menjadi ketua IMKB. Sedangkan untuk realisasi hal tersebut tergantung kebijakan pemda (instansi terkait).
Wardi menyebutkan alasan mengapa hanya jurusan eksak (MIPA dan FKIP) yang mendapatkan jatah saat mengajukan beasiswa tersebut yaitu karena tenaga ahli dijurusan tersebut di Bengkayang masih sangat minim, sementara untuk bidang social dan hukum sudah terpenuhi.
“Agar lebih jelas, sebaiknya ditanyakan ke dinas terkait,” tandasnya.
Setelah melihat kenyataan diatas, sudah menjadi kewajiban agar instansi yang dimaksud lebih jeli dalam mengikuti perkembangan pendidikan didaerahnya, termasuk halnya dalam memberikan bantuan beasiswa.
Diposting oleh Krisantus di 5:54 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Bengkayang Tingkatkan Produksi Padi Sebesar 32 Persen
Krisantus (Borneo Tribune, Bengkayang) Keberhasilan Pemda Bengkayang dalam meningkatkan produksi padi pada tahun 2008 sebesar 32,70 persen atau 24.030 dari tahun sebelumnya yakni dari 73.470 ton menjadi 97.500 ton merupakan sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Atas prestasi yang dicapai tersebut, pada tanggal 8 Juni 2009 lalu Bupati Bengkayang, Jacobus Luna mewakili masyarakat Bengkayang menerima penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Boyolali, Jawa Tengah. Penghargaan yang diberikan Presiden tersebut dimaksud untuk menggalakkan masyarakat dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional. Berdasarkan keterangan yang diberikan Kepala Dinas Pertanian Bengkayang, Supriadi melalui Sekretaris Dinasnya, Danuri ketika ditemui wartawan ini diruang kerjanya, Rabu (10/6), pada tahun 2008 lalu Pemda Bengkayang mampu memenuhi target pemerintah pusat yang menghendaki peningkatan produksi pertanian sebesar 5 persen, untuk Bengkayang adalah padi. Selanjutnya, Ia menyatakan apa yang dicapai daerah ini merupakan hasil keringat semua pihak. “Kesadaran petani dalam menerapkan sistem pertanian yang baik merupakan salah satu indikator keberhasilan tersebut,” ungkap Danuri. Menurutnya kesadaran itu ditunjukan dengan tingginya minat masyrakat untuk menggunakan benih unggul dan kesadaran mereka untuk menanam padi sebanyak dua kali setahun. Pejabat yang pada awal karirnya sebagai PPL di Samalantan ini juga menyebutkan beberapa faktor lain yang memicu pencapaian itu, yakni meningkatnya luas areal tanam yang ditandai dengan adanya percetakan sawah seluas 500 Ha/tahun. Produksi satuan hektar meningkat dari 3,8 Kwintal/Ha menjadi 4,2 Kwintal/Ha. Peran serta yang tinggi dari PPL baik yang berasal dari departemen maupun THL. Dari data terakhir, mantan Camat Monterado ini mengatakan pada saat ini secara keseluruhan luas areal padi sawah yang dimiliki Bengkayang adalah 39.483 Ha dan luas areal padi ladang adalah 23.179 Ha.
Baca selengkapnya..Diposting oleh Krisantus di 5:24 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Thursday, April 23, 2009
Misteri Kematian Lena
Borneo Tribune, Bengkayang
Ketika saya mendatangi rumah milik Libertus (40) di Dusun Merpati, Desa Samalantan, Kecamatan Samalantan, Minggu (19/4) sekitar pukul 15.30, wajah lesu terpancar dari roman muka Bapak lima anak tersebut. Pria yang kesehariannya ini menggantungkan hidupnya dari hasil karet itu beberapa hari yang lalu baru saja mengalami musibah yang mana satu dari anggota keluarganya pergi untuk selama-lamanya.
Libertus yang saat ditemui ditemani tiga orang kerabatnya, termasuk Karyadi yang tak lain adalah sepupunya mempersilahkan dengan tutur kata yang bersahabat dengan wartawan ini.
Dari keterangan yang diperoleh, Libertus tak lain merupakan ayah dari seorang bocah berumur 12 tahun yang pada hari Kamis (16/4) lalu telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Bocah itu bernama Lena. Dari informasi yang lain, diketahui Libertus telah menduda kurang lebih lima tahun yang lalu. Ia ditinggalkan istrinya yang menikah dengan orang lain. Dengan meninggalnya Lena, saat ini Libertus tinggal berdua dengan anaknya yang bungsu, sedangkan tiga anaknya yang lain masing-masing menetap di Sekadau (berkeluarga), bekerja di Singkawang dan satu di Luar Negeri.
Setelah itu saya memperkenalkan diri, dengan suara lembut Libertus menceritakan kejadian tragis yang menimpa putri ke-empatnya tersebut.
Berawal saat hendak menghantar bekal kepada sang ayah yang terlebih dahulu berangkat menoreh karet sekitar pukul 06.00 (Kamis, 16/4) di kebun karet milik keluarganya yang berjarak 200-an meter lebih dari rumah.
“Lena berangkat tidak lama setelah saya mulai menoreh, mungkin baru menyelesaikan beberapa batang pohon karet, kurang lebih pukul 07.00,” kata Libertus menyebutkan perkiraan waktu anaknya menghantar bekal.
Menurutnya, setiap hari hal rutin yang dikerjakan Lena ketika Ia menoreh ialah menghantar bekal sekalian ember penampung air sadapan karet setelah itu Lena akan membantunya mengambil air sadapan.
Namun pada hari naas itu, pria paruh baya tersebut merasa sesuatu yang aneh. Aneh karena hingga selesai menoreh tetapi Lena tidak juga kunjung datang menghantar bekal dan ember yang memang dibutuhkannya untuk saat itu.
Lebih lanjut, pria ini kembali mengungkapkan bila dalam durasi waktu dimana anaknya biasa menghantar bekal, Ia mendengar ada suara teriakan tidak jauh dari lokasi kebun karetnya. Tetapi Dia tidak memiliki kecurigaan sedikitpun dengan pendengarannya tersebut.
Tidak diceritakan bagaimana Ia mengumpulkan hasil sadapan tersebut, Libertus kemudian menceritakan bila anaknya itu tidak kembali kerumah hingga pukul 16.00.
Karena merasa kuatir akan keselamatan anaknya, Libertus kemudian meminta bantuan kepada para tetangganya untuk mencari anaknya yang tak juga kembali, pencarianpun dilakukan beramai-ramai.
Bersama warga, Libertus mengatakan pencarian dilakukan hingga pukul 03.00 subuh (Jumat, 17/4) namun korban belum ditemui. Pencarian korban kembali dilakukan pada pukul 06.00 lewat atau ketika matahari sudah terbit.
“Almarhum ditemui sekitar pukul 07.00 tidak jauh dari kebun karet, tepatnya di kolam bekas don feng (merk mesin yang digunakan untuk menambang emas),” ujarnya sembari mengungkapkan bila pada saat ditemui nyawa korban sudah tidak ada.
“Disekujur tubuhnya ditemukan memar, disekitar bahu sebelah kanan, kepala bagian belakang remuk serta dikeningnya terdapat luka,” jelas Libertus menyebutkan kondisi yang dialami korban ketika ditemui.
Lebih lanjut Libertus mengatakan setelah mayat ditemukan, Ia bersama masyarakat yang turut melakukan pencarian kemudian membawa tubuh korban kepada salah seorang bidan setempat untuk diperiksa karena diduga korban diperkosa sebelum dibunuh. Namun, hasil pemeriksaan Bidan tersebut tidak menunjukkan adanya indikasi pemerkosaan. Libertus dan warga mengaku tidak puas dengan hasil itu sehingga akhirnya mayat dibawa ke RS. Abdul Azis Singkawang untuk di Autopsi.
Ketika ditinjau di TKP, lobang yang dimaksud jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 200-an meter dari rumah korban. Lobang tersebut memiliki kedalaman kurang lebih 3 meter dengan diameter lingkaran kurang lebih 4 meter persegi.
Dijelaskan Paman korban, Karyadi yang menemani saya meninjau TKP menyebutkan jika pada malam kejadian pencarian dilobang tersebut sudah dilakukan sekali tetapi tidak ditemui adanya korban.
“Mayat ditemui setelah dilakukan pencarian dilobang untuk kedua kalinya,” terang Karyadi.
Karyadi yang saat ini berdomisili di Sibale (Serukam) ketika dalam perjalanan menuju TKP menyebutkan bila kematian Lena ini diduga telah dilakukan oleh seseorang. Ia menyebutkan alasannya karena, korban ditemukan dikolam bekas tambang yang bukan menjadi jalan menuju kebun karet milik korban. Kemudian, alasan kedua barang-barang yang dibawa oleh korban seperti dua buah ember, periuk, piring, sendok dan bekal korban tidak ditemui hingga sekarang.
“Selain itu, ikat rambut, sisir dan sandal korban ditemui oleh pihak kepolisian pada semak-semak yang ditepur disekitar kolam,” terang Karyadi sambil menunjuk semak belukar dimana ditemukan barang-barang tersebut.
Sementara itu, ketika ditemui diruang kerjanya pada hari bersamaan Kapolsek Samalantan, IPDA Dwi Harjana mengatakan bila proses pengungkapan kasus ini masih dalam tahap pengembangan. Dimana setelah mendapat laporan kejadian tersebut (mayat ditemukan) langsung mengerahkan anak buahnya untuk melakukan olah TKP selanjutnya dilakukan identifikasi TKP. Olah TKP dilakukan sebanyak dua kali yaitu hari Jumat dan Sabtu.
“Dan hingga hari ini (dari Sabtu malam hingga Minggu siang) telah dilakukan pemanggilan terhadap empat saksi,” sebutnya.
Keempat saksi yang kesemuanya telah dimintai keterangan diantaranya berinisial Fr, Kr, Istri Fr serta ayah korban, Libertus.
“Petunjuknya sangat sedikit,” terang Dwi Harjana.
Dijelaskannya, dari barang bukti dan keterangan saksi serta hasil visum tersebut pihaknya akan membuat sebuah analogy of crime untuk membuat sebuah kesimpulan dalam pengungkapan kasus. Dalam pengungkapan kasus ini, Polsek Samalantan mendapat bantuan anggota Penyelidik dari Polres Bengkayang sebanyak 5 orang.
Sepekan kematian Lena (12) masih menjadi misteri semua pihak, baik pihak keluarga maupun kepolisian karena minimnya petunjuk yang bisa mengarah kepada tersangka.
“Temuan Barang Bukti (BB) masih sebatas yang dimiliki korban, namun untuk BB yang mengarah kepada tersangka belum ada,” ungkap Kapolsek Samalantan, IPDA Dwi Harjana yang dihubungi melalui telefon, Kamis (23/4).
Ditemukannya BB milik bocah kecil itu diakui langsung paman korban Karyadi saat bertandang dikantor perwakilan media ini di Bengkayang pada hari yang sama. Menurutnya hingga saat ini memang telah ditemukan BB berupa ember dan bekal yang diduga kuat milik korban.
“BB tersebut ditemukan didasar lobang tempat dimana korban ditemukan,” terangnya.
Ditemukannya ember dan bekal yang masih terbungkus dalam kantong itu setelah dilakukan pengecekan ulang didasar lobang yang dalamnya hampir mencapai 3 meter.
Karyadi juga menyebutkan upaya yang ditempuh pihak keluarga dalam mengungkapkan kasus ini tidak hanya melalui pihak kepolisian, tetapi dilakukan dengan cara memanfaatkan orang pintar.
Diposting oleh Krisantus di 6:24 AM 1 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Saturday, February 14, 2009
Kualitas Kurang, Berkah Bagi Bibi
(Krisantus. Borneo Tribune, Bengkayang).
Akibat pengerjaan proyek pembangunan sebagian besar hasil-hasil pembangunan tersebut yang tidak dapat bertahan lama. Bahkan dalam terkadang tidak sampai hitungan tahun, dalam masa satu dua bulan saja hasil pekerjaan sudah mengalami kerusakan.
Kendala pembangunan seperti itu bukanlah sebagai sesuatu yang sulit untuk melihat kenyataan dilapangan. Keinginan para pemegang proyek untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya bukanlah hal tabu dikerjakan mereka.
Hal ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi keuangan Negara, karena anggaran yang seharusnya digunakan untuk membangun sarana dan prasarana lain harus tertahan atau bahkan tidak dianggarkan karena anggaran tersebut kemudian digunakan kembali untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang sudah ada namun rusak.
Terlepas dari hal itu, ternyata rendahnya mutu dari kualitas pembangunan infrastruktur didaerah ini (Bengkayang) mampu memberikan penghasilan yang lumayan besar bagi seorang Bibi.
Pemuda lajang berusia 22 tahun ini ternyata mampu memanfaatkan adanya kerusakan infrastruktur jalan disepanjang jalan desanya.
“Kurang lebih empat tahun lalu saya mulai bekerja seperti ini,” kata Bibi saat ditemui sedang meratakan batu ditengah jalan aspal yang mengalami kerusakan (berlubang), seminggu lalu.
Pria berkulit hitam tersebut berasal dari Desa Magmagan Karya, Dusun Doyot, Kecamatan Lumar. Saban hari pekerjaannya ialah menambal setiap lubang dijalan aspal yang melintasi desanya.
Lubang-lubang yang bisa dikategorikan berbahaya bagi pengendara itu ditambal atau ditutupinya menggunakan tanah merah dan sedikit kerikil yang bertaburan dipinggiran jalan sehingga memudahkan pengendara melewati jalanan tersebut. Pekerjaan itu tidak pernah selesai, karena disepanjang jalan banyak ditemui lubang-lubang ukuran besar hingga sedang.
Untuk dapat bekerja, Bibi hanya perlu menyediakan dua peralatan yaitu cangkul dan tanggok (alat yang biasa digunakan masyarakat setempat untuk mengangkut tanah atau pasir). Sejak pagi hingga menjelang sore ia terus bekerja dari lubang yang satu menuju lubang yang lain.
Terpaan debu dan asap akibat kendaraan yang lewat merupakan hal yang harus diterimanya. Bahkan teriknya sinar matahari bukanlah penghalang baginya untuk beraktivitas. Karena perkerjaan itu rutin dilakukan, masyarakat sekitar dan pengendarapun banyak yang mengenalnya. Bibi telah terbiasa, Ia tidak lagi canggung melakukan tugas rutinnya itu.
Bagaimana tidak, ternyata dari pekerjaan yang kelihatannya sangat tidak layak digelutinya itu mampu memberikan penghasilan yang lumayan besar bagi seorang lajang macam Bibi.
“Terkadang seratus hingga seratus lima puluh ribu,” ungkapnya mengatakan besaran uang yang dia peroleh bila selama seharian bekerja. Uang itu didapatnya dari para setiap pengendara yang melintasi jalan.
“Paling besar yang pernah saya peroleh yaitu tiga ratus ribu,” terangnya.
Bibi menuturkan jika dalam setiap pemberian pengendara tidaklah ditentukan tarifnya, tergantung kerelaan mereka yang memberikan uang. Mulai dari seribu hingga puluhan ribu terkadang dikasih uang.
“Saya menambal lubang dijalan ini tidak meminta upah kepada pengendara maupun terikat kepada pemerintah. Namun saya hanya menanti adanya kerelaan dari pengendara yang lewat,” jelas Bibi.
Dari pantauan langsung, memang tidak terlihat adanya tanda palang ataupun kayu yang berfungsi untuk menahan laju setiap kendaraan yang lewat. Dari kejauhan setelah mendengarkan gaung suara kendaraan Bibi hanya berlari kepinggir jalan sambil mengambil tanah maupun kerikil disekitarnya selanjutnya membiarkan kendaraan berlalu.
“Biasanya pengendara yang merasa iba, berhenti atau melambatkan laju kendaraannya. Terkadang karena merasa berterimakasih, pengendara tersebut mau memberikan uang mereka. Tetapi tidak jarang pula yang begitu saja berlalu,” akunya.
Pekerjaan ini setidaknya mampu memberikan penghasilan bagi seorang Bibi akibat kerusakan yang ditimbulkan karena rendahnya kualitas jalan dan usia jalan yang telah lama dibangun. Ketika ditanya, hingga kapan pekerjaan ini terus digeluti!
“Mungkin hingga jalan disini sudah direhab dan tidak ada lagi lubangnya,” tandas Bibi.
Diposting oleh Krisantus di 11:56 PM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Tuesday, December 23, 2008
Hingga Hari Ini LP Lumar Masih Dipalang
Krisantus (Borneo Tribune, Bengkayang).
Kondisi terakhir Lembaga Pemasyarakat (LP) Lumar yang terletak di kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang hingga Selasa (9/12) kemarin masih sepi dari aktivitas petugas yang ditelah ditempatkan disitu. Situasi ini dinyatakan para pemuka masyarakat setempat akan terus berlangsung bila memang pihak pemerintah dalam hal ini pihak Departemen Hukum dan HAM tidak memperhatikan tuntutan mereka.
“Pemerintah (Depkumham) harus memperhatikan masyarakat setempat untuk ditempatkan sebagai pegawai di LP Lumar sesuai dengan kesepakatan sebelum didirikannya LP tersebut,” kata salah seorang Pemuka Masyarakat setempat, Petrus SA ditemui belum lama ini. Ia mengatakan tuntutan itu merupakan salah satu bentuk tuntutan masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. Tuntutan itu cukup beralasan karena sebelum berdirinya LP Lumar, pernah terjadi perjanjian antara pemerintah dan masyarakat setempat pada saat pembebasan lahan, dimana dengan diserahkannya tanah/lahan secara percuma bagi pembangunan itu oleh perusahaan masyarakat.
Diposting oleh Krisantus di 3:22 AM 1 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Polres Bengkayang Tak Pernah Bekerja atau Tidak Profesional?
Krisantus (Borneo Tribune, Bengkayang).
Kasus penembakan terhadap Beltra Indri (21) warga dusun Sempayuk Desa Belimbing, Kecamatan Lumar pada 14 Agustus 2008 lalu belum menemukan titik terang yang diberikan aparat hukum setempat kepada keluarga korban. Indri yang saat itu sedang berbadan dua (mengandung anak pertamanya) kurang lebih dua bulan itu meninggal dunia ditempat kejadian akibat tertembus timah panas yang bersarang dibagian lehernya.
Menurut Pasius Dani (27) yang tidak lain adalah suami korban, kasus penembakan yang terjadi diperbatasan antara dusunnya dengan dusun Malosa, Keluharan Bumi Emas, Bengkayang itu telah diserahkan kepihak Polres Bengkayang dan Denpom Singkawang sehari setelah kejadian. Namun hingga saat Ia menemui saya di Kantor Perwakilan Borneo Tribune Bengkayang, Sabtu (13/12) kemarin tidak ada satupun laporan hasil kerja aparat hukum yang mengindikasikan akan ditemukannya pelaku dikonfirmasikan ke pihak korban, padahal selama ini pihak korban telah menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kasus tersebut kepada pihak berwajib.
“Terus terang dengan kinerja yang ditunjukkan itu saya katakan Polres tak pernah berkerja,” ungkap Pasius dengan nada kesal melihat kasus yang menimpa istrinya itu belum ada perkembangan.
Bahkan dengan berani Pasius beranggapan bahwa Polres Bengkayang seolah-olah ingin menutup penyelesaian kasus itu. Bagaimana tidak, selama kurun waktu sejak kejadian, dirinya bersama pemuka masyarakat setempat sudah lima kali menghadap pihak kepolisian, namun masih saja hasilnya nihil dimana tidak ada laporan perkembangan penyidikan.
“Keseriusan Polres Bengkayang dalam mengungkapkan kasus ini benar-benar dipertanyakan. Jangan hanya waktu kami datang mereka seolah-olah serius akan mengusut tuntas kasus itu, tetapi setelah kami pulang hal itu tidak dikerjakan,” paparnya.
Pasius yang kesehariannya sebagai petani mengaku sudah bosan dengan janji yang selalu diucapkan aparat tetapi pelaksanaannya kosong. Kemudian secara gamblang Pasius menyebutkan sebenarnya pihak Kepolisian Bengkayang mengetahui siapa yang menjadi pelaku penembakan istrinya karena mereka (kepolisian) sendiri sudah mengetahui kronologis kejadian tersebut. Dimana pada terjadi penembakan masyarakat melaporkan bahwa pada saat itu mereka mengetahui yang membawa senjata api berasal dari pihak keamanan yang kini masih bebas berkeliaran dimuka umum.
Disebutkannya, sedikitnya ada tujuh orang aparat hukum yang pada saat kejadian bertemu dengan masyaraat disekitar perbatasan. Ketujuh orang itu tiga diantaranya berasal dari Polres Bengkayang sedangkan tiga orang lagi berasal dari Koramil Bengkayang serta satu orang anggota Satpol PP.
“Bagaimana mungkin masyarakat yang pergi saat itu bisa menembaki orang kampungnya sendiri apalagi masyarakat sendiri tidak ada satupun yang membawa senjata api,” jelasnya.
Dan diperparah lagi, penyidikan terhadap ketujuh orang tersebut tidak pernah diinformasikan kepihak korban, aparat hukum hanya mengatakan bahwa pihak yang diduga tersebut sudah kami periksa, tapi tidak ada hal yang memberatkan mereka. Begitu Pasius menirukan kata-kata yang sering diungkapkan pihak keamanan ketika mereka datang menghadap.
Untuk menyiasati terungkapnya kasus penembakan itu, Pasius mengaku dirinya tidak hanya menyerahkannya sebatas kepihak Polres Bengkayang tetapi juga kepada Denpom Singkawang.
“Kami sejauh ini sudah tiga kali menghadap kepihak Denpom Singkawang untuk menanyakan penyelesaian kasus, tetapi hasil yang sama juga yang kami peroleh,” kesal Pasius.
Selain meminta bantuan kepada dua belah pihak itu tadi, Pasius juga mengaku meminta bantuan kepada Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalbar, untuk membantu memberikan tekanan kepada pihak kepolisian namun hal itu ternyata tidak banyak membantu.
Dari beberapa pihak yang telah dimintai bantuannya itu, terakhir Pasius mengharapkan agar Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar segera memberi tekanan kepada jajaran dibawahnya Kepolisian Resort (Polres) Bengkayang untuk segera menyelesaikan kasus tersebut.
“Karena bila didiamkan seterusnya, bukan tidak mungkin kasus ini akan ditutup Polres Bengkayang,” tegasnya.
Ia melanjutkan jangan sampai muncul pandangan dimata masyarakat Bengkayang ketidakberdayaan Polres Bengkayang dalam menyelesaikan kasus kriminal berat seperti pembunuhan. Karena bukti nyata seperti kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Desa Magmagan Karya kemudian di Rangkang, Kelurahan Bumi Emas hingga kini tak pernah terungkap.
Dalam kesempatan ini juga, Pasius mengaku setuju bila pada saat penerimaan anggota baru Kapolri memberi batas minimal jenjang pendidikan calon anggotanya berasal dari jenjang pendidikan Strata-1, hingga demikian kedepannya diharapkan mereka sudah benar-benar siap menjalankan tugas.
“Jangan sampai penyelesaian kasus yang menimpa saya itu tidak mampu dilakukan,” pungkasnya.
Kronologis Kejadian (diceritakan kembali oleh Pasius Dani) :
Tanggal 14 Agustus : Sebanyak 74 Orang warga Dusun Sempayuk Berniat untuk memantau tapal batas antara dusun mereka dengan Dusun Malosa, Kelurahan Bumi Emas, Bengkayang. Sebagian besar masyarakat membawa perkakas seperti parang ketempat tersebut untuk membersihkan daerah sekitar batas. Pada saat perjalanan, ke-74 orang warga mengaku bertemu dengan tujuh orang aparat yang membawa Senjata Api. Ketujuh orang tersebut diketahui tiga orang berasal dari anggota Polres Bengkayang, tiga orang anggota Koramil dan satu orang Satpol PP. Dalam pertemuan antara warga dengan pihak keamanan sempat terjadi perbincangan, terutama mengenai maksud kedatangan mereka didaerah batas. Warga mengaku ingin meninjau daerah perbatasan mereka dengan Malosa. Setelah berbincang-bincang sedikit, kedua pihak kemudian berpisah. Sesampainya dilokasi batas, wargapun mulai membersihkan (menebas) area perbatasan. Namun tidak berselang lama, warga mendengar suara tembakan yang begitu keras menuju kearah mereka membuat semua yang berada ditempat itu seketika menjadi panik. Kepanikan itu bertambah setelah mereka mengetahui salah satu warganya, Beltra Indri (21) tertembak dibagian lehernya yang mana hal itu mengakibatkan korban langsung mati ditempat. Setelah beberapa saat, sebagian warga yang dengan cepat menghalau rasa paniknya kemudian mencoba untuk mencari pelaku penembakan. Tetapi hasilnya nihil. Karena mengetahui salah satu warganya telah meninggal dunia, merekapun segera kembali ke Dusun selanjutnya kejadian itu dilaporkan ke Pihak Kepolisian Sektor Lumar. Polsek Lumar kemudian melanjutkan laporan itu kepihak Polres Bengkayang untuk diproses.
Diposting oleh Krisantus di 3:07 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Gunakan Bukti Palsu Untuk Cairkan Dana *Pihak Terkait Diminta Tegas
Borneo Tribune, Bengkayang.
Pengerjaan proyek terhadap pembangunan tiga ruang kelas dan satu ruang kantor di Sekolah Dasar Negeri 07 Muhi Bersatu, Kecamatan Suti Semarang hingga saat ini belum rampung namun anggaran dana tersebut telah diajukan kontraktornya untuk dicairkan. Hal ini dikhawatirkan akan ditinggalkan oleh pihak tersebut. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Kepala Sekolah SD terkait, Rachman Mustari ketika ditemui di Bengkayang, Senin (22/12) mengatakan usaha yang digunakan pihak kontraktor untuk mencairkan 100 persen dana pembangunan tersebut ialah dengan menggunakan foto bangunan lain alias palsu.
“Mereka menggunakan foto SDN 03 Suti Semarang sebagai laporan kepada instansi terkait dan juga Bawasda serta konsultan sehingga dana tersebut bisa dicairkan,” kata Rachman.
Menurutnya, hingga saat ini pengerjaan bangunan itu benar adanya belum terselesaikan oleh pelaksana yang ditunjuk pemerintah setempat. Selain dari pengerjaan yang belum selesai, pihaknya juga menemukan beberapa pelanggaran karena tidak sesuai dengan ketentuan atau bestek yang ada. Rachman memaparkan bahwa pengerjaan yang seharusnya menggunakan papan berkualitas baik tetapi digunakan papan yang berasal dari jenis kayu durian.
“Kalau jenis kayu seperti itu cocoknya untuk buat mal/cetakan semen,” jelasnya. Kemudian selain itu pelaksana pekerjaan juga menggunakan kayu lokal ukuran 5x8 untuk membuat gelagar padahal seharusnya menggunakan kayu berkualitas dengan ukuran 9x9. serta temuan pembuatan tongkat tumpuan bangunan tanpa menggunakan lacik.
“Seharusnya kontraktor tidak mengerjakan bangunan dibuat asal jadi tanpa memperhatikan efek kedepannya,” pinta Rachman. Dipaparkannya bahwa hasil bangunan itu nanti akan dirasakan oleh orang banyak terutama murid sekolah hingga bila sampai terjadi suatu kerusakan tentunya pihak sekolah yang akan merasakan langsung.
“Bukan kontraktor itu,” tegasnya.
Mengenai temuan ini, Rachman bersama Kepala Desa Muhi Bersatu dan seorang pemuka masyarakat setempat telah melaporkan kepada Bawasda serta instansi terkait. Dan dari penjelasan yang disampaikan pihak tersebut, Rachman mengatakan dalam waktu dekat ini Bawasda dan Konsultan akan melakukan cek lapangan untuk mengetahui kebenaran laporan itu. Dan diharapkan pihak yang menjadi dipercaya menjadi pengawas dapat membuktikan kebenaran yang ada dan bila hal itu terbukti diharapkan kontraktor dapat diberikan tindakan.
Berdasarkan data yang disampaikan Rachman, dana yang digunakan untuk pembangunan gedung sekolah di Sekolah yang dipimpinnya tersebut berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu kurang lebih sebesar 330 juta rupiah dengan demikian seharusnya hasil pekerjaan lebih berkualitas dan dikerjakan dengan tepat waktu. Tahun ini, SDN 07 Muhi Bersatu memiliki 63 murid dari kelas I-III. SD ini mulai beroperasi pada tanggal 17 Juli 2006. Dari jumlah murid yang ada, SD ini ternyata sangat membantu masyarakat setempat.
“Jangan sampai kejadian tahun 2003 terulang kembali, “ pungkasnya mengakhiri perbincangan ini. Menurutnya pembangunan gedung SD ini sudah dilakukan pada tahun 2003, namun yang terjadi ialah dalam waktu dekat keadaan bangunan sudah mengalami kerusakan akibat pengerjaan yang asal-asalan.
Diposting oleh Krisantus di 2:58 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang
Monday, October 27, 2008
Harga Karet vs Harga Kebutuhan Hidup, Petani Mengeluh
Borneo Tribune, Bengkayang.
Merosotnya harga karet dipasaran membuat petani mengeluh karena penurunan tersebut tidak diimbangi dengan turunnya harga kebutuhan hidup, seperti harga sembilan bahan pokok (sembako).Kisaran harga karet yang turun hingga mencapai 60 persen merupakan sebuah pukulan telak bagi petani.
Dimana sebelum adanya krisis keuangan global (USA) harga karet bisa mencapai belasan ribu kini berubah total menjadi lima ribu hingga tujuh ribuan, sementara harga sembako maupun kebutuhan hidup lainnya tetap pada harga awal, bahkan cenderung naik. Akibatnya petani mengeluh.
Keluhan itu cukup beralasan, dimana sebagian besar masyarakat di Bengkayang menggantungkan diri dari hasil pertanian karet. Praktis penurunan harga ini berpengaruh pada pendapatan mereka sehari-hari. Pendapatan sehari dalam hitungan berat karet 5 kg dengan jumlah uang diatas 50 ribu sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini berat karet sedemikian sudah tidak mencukupi dibanding dengan harga kebutuhan hidup yang harganya cenderung naik. Berat karet 5 kg saat ini paling hanya mendapat uang berkisar 25 ribu hingga 35 ribu.
Walaupun secara umum para petani mengetahui penyebab dari penurunan harga tersebut, namun mereka mengharapkan agar pihak terkait, terutama dalam hal ini pemerintah untuk segera mengatasinya.
“Setidaknya harga karet dengan harga kebutuhan pokok (sembako) tidak jauh berbeda,” ungkap Guru yang yang juga memiliki warung Sembako dan pemilik kebun karet, Nicholaus Nasir saat ditemui dikediamannya, Rabu (22/10).
Nasir menyebutkan, perlunya usaha pemerintah agar terjadinya keseimbangan harga ialah sudah menjadi tugas mereka untuk mengatasinya karena dampak dari hal itu lebih ketara dirasakan rakyat kecil.
“Pemerintah harus segera mencari solusi masalah tersebut supaya petani karet tidak semakin terpuruk oleh kondisi itu,” pintanya.
Nasir yang seharinya bisa memperoleh pendapatan bersih 120 ribu sehari dari menorah karet, saat ini turun total menjadi 60 ribu perhari mengungkapkan, sejauh ini belum merasakan pola tindakan yang diambil pemerintah, seperti apa yang pernah diungkapkan Presiden SBY yang mengajak komponen bangsa untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian.
Diposting oleh Krisantus di 2:44 AM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Bengkayang


